Kamis, 15 Maret 2018

KUMPULAN KUTIPAN HADIST SHOKIH HR. BUKHARI & HR. MUSLIM

Assalamualaikum teman-teman sebelumnya saya akan menjelaskan apa itu Hadits?
Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa salam yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan hukum dalam agama Islam selain Al-Qur’an, Ijma dan Qiyas.
Dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al Qur’an.
Berikut ini adalah beberapa hadits yang berkaitan dengan wanita yang saya rangkum dari berbagai sumber yang kredibel. Semoga dengan mengetahui dan mengamalkan Hadits-Hadits ini, kita dapat mejadi orang yang lebih baik lagi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya :
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min : ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab : 59)
1. Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)
2. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu : “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57 : “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)
3. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bagi lelaki yang ingin menikah : “Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)
4. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula bersabda : “Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 302, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/57 dan Asy-Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 282)
5. Ketika Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki ?”
Beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah no. 1505)
6. Al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, yang artinya :
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, dan berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, maka engkau mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuatlah baik kepada wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya : Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)
8. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata : “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)
9. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
10. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda : “Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289)
11. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436)
12. Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 1436)
13. Kisah wanita yang akan berangkat menunaikan shalat ‘ied, ia tidak memiliki jilbab, maka diperintah oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Hendaknya Saudarinya meminjaminya Jilbab untuknya.” (HR. Bukhari No. 318).
14. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di akhir kehidupannya, dan hal itu terjadi pada haji Wada’ : “Ingatlah, berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka itu (bagaikan) tawanan di sisi kalian. Kalian tidak berkuasa terhadap mereka sedikit pun selain itu, kecuali bila mereka melakukan perbuatan nista. Jika mereka melakukannya, maka tinggalkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukul lah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika ia mentaati kalian, maka janganlah berbuat aniaya terhadap mereka. Mereka pun tidak boleh memasukkan siapa yang tidak kalian sukai ke tempat tidur dan rumah kalian. Ketahuilah bahwa hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka (dengan mencukupi) pakaian dan makanan mereka.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih)
15. Ummu Salamah berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana wanita berbuat dengan pakaiannya yang menjulur ke bawah ?”
Beliau bersabda : “Hendaklah mereka memanjangkan satu jengkal”,
lalu ia bertanya lagi : “Bagaimana bila masih terbuka kakinya ?”
Beliau menjawab : “Hendaknya menambah satu hasta, dan tidak boleh lebih”. (HR. Tirmidzi 653 dan berkata : “Hadits hasan shahih”).
16. Dari Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda padanya : “Apapun yang engkau berikan berupa suatu nafkah kepada keluargamu, maka engkau diberi pahala, hingga sampai sesuap makanan yang engkau angkat (masukkan) ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
17. Al-Hushain bin Mihshan rahimahullahu menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya : “Apakah engkau sudah bersuami?”
Bibi Al-Hushain menjawab : “Sudah.”
“Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu ?” tanya Rasulullah lagi.
Ia menjawab : “Aku…tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.”
Rasulullah bersabda : “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu ” (HR. Ahmad 4/341 dan selainnya, lihat Ash-Shahihah no. 2612)
18. Di dalam kisah gerhana matahari yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang, beliau melihat surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya : “… Dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita”.
Para shahabat pun bertanya : “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian) ?”
Beliau menjawab : “Karena kekufuran mereka.”
Kemudian mereka bertanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?”
Beliau menjawab : “Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
19. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya : Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakain tapi telanjang baik karena tipis, atau pendek yang tidak menutup semua auratnya), Mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang) kepala mereka seperti punuk onta yang berpunuk dua. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan didapati dari sekian dan sekian (perjalanan 500 tahun).” (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421)
20. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik dari pada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya.” (HR. At-Thabrani dan Baihaqi)

Sholat



Tata Cara Sholat Bagi Wanita | Ustadz Adi Hidayat,LC,MA




Semoga bermanfaat!


Source:Infosingkat

Wudhu

Assalamualaikum teman-teman
Hari ini saya akan memberikan  "Cara berwudhu di tempat umum bagi teman-teman muslimah yang berhijab"
Semoga bermanfaat!





Source: Netmediatama(Saliha)

Kamis, 01 Maret 2018

Pacaran Haram?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Siapa Bilang Pacaran Haram ??
Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya kepadaNya kita memuji, meminta tolong, memohon ampunan, bertaubat dan memohon perlindungan atas kejelekan-kejelekan diri dan amal-amal yang buruk. Barangsiapa yang diberi Allah petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberikannya hidayah taufik. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan tiada sekutu baginya. Aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hambaNya dan UtusanNya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan para sahabatnya ridwanulloh ‘alaihim jami’an.
Adalah suatu hal yang telah menyebar luas dikalangan masyarakat sebuah kebiasaan yang terlarang dalam islam namun sadar tak sadar telah menjadi suatu hal yang sangat sering kita lihat bahkan sebahagian orang menganggapnya adalah suatu hal yang boleh-boleh saja, kebiasan tersebut adalah apa yang disebut sebagai pacaranOleh karena itu maka penulis mencoba untuk memaparkan sedikit tinjauan islam tentang hal ini dengan harapan penulis dan pembaca sekalian dapat memahami bagaimana islam memandang pacaran serta kemudian dapat menjauhinya.
Pacaran yang dikenal secara umum adalah suatu jalinan hubungan cinta kasih antara dua orang yang berbeda jenis yang bukan mahrom dengan anggapan sebagai persiapan untuk saling mengenal sebelum akhirnya menikah[1].
Inilah mungkin definisi pacaran yang banyak tersebar dikalangan muda-mudi. Maka atas dasar inilah kebanyakan orang menganggap bahwa hal ini adalah suatu yang boleh-boleh saja, bahkan lebih parahnya lagi dianggap aneh kalau menikah tanpa pacaran terlebih dahulu –wal ‘iyyadzubillah –. Lalu jika demikian bagaimanakah tinjauan islam tentang hal ini? Berikut penulis coba jelaskan sedikit kepada pembaca –sesuai dengan ilmu yang sampai kepada penulis– bagaimana islam memandang pacaran.
Pacaran adalah suatu yang sudah jelas keharamannya dalam islam, dalil tentang hal ini banyak sekali diantaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla :
وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan”. (Al Isra’ [17] : 32).
Ayat ini adalah dalil tegas yang menunjukkan haramnya pacaran.
Berkaitan dengan ayat ini seorang ahli tafsir Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah- mengatakan dalam tafsirnya,
Larangan mendekati suatu perbuatan nilainya lebih daripada semata-mata larangan melakukan suatu perbuatan karena larangan mendekati suatu perbuatan mencakup larangan seluruh hal yang dapat menjadi pembuka/jalan dan dorongan untuk melakukan perbuatan yang dilarang”.
Kemudian Beliau –rahimahullah- menambahkan sebuah kaidah yang penting dalam hal ini,
Barangsiapa yang mendekati suatu perbuatan yang terlarang maka dikhawatirkan dia terjatuh pada suatu yang dilarang[2].
Hal senada juga sebelumnya dikatakan penulis Tafsir Jalalain demikian juga Asy Syaukani –rahimahullah- namun Beliau menambahkan, “Jika suatu yang haram itu telah dilarang maka jalan menuju keharaman tersebut juga dilarang dengan melihat maksud pembicaran[3]. Bahkan diakatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin –rahimahullah-, “termasuk dalam ayat ini larangan melihat wanita yang bukan istrinya (yang tidak halal baginya, pen.), mendengarkan suaranya, menyentuhnya, sama saja apakah ketika itu dia sengaja untuk bersenang-senang dengannya ataupun tidak”[4]. Dari penjelasan para ulama ini jelaslah bahwa pacaran dalam islam hukumnya haram karena pacaran termasuk dalam perkara menuju zina yang Allah haramkan ummat nabiNya untuk mendekatinya.
Jika ada yang mengatakan bahwa pacaran belumlah dapat dikatakan sebagai perbuatan menuju zina, maka kita katakan kepadanya bukankah orang yang paling tahu tentang perkara yang dapat mendekatkan ummatnya ke surga dan menjauhkannya dari api neraka telah mengatakan :
وَ احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ وَ غَضُّوْا أَبْصَارَكُمْ وَ كَفُّوْا أَيْدِيَكُمْ
Jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan-pandangan kalian dan tahanlah tangan-tangan kalian”.[5]
Dalam hadits yang mulia ini terdapat perintah untuk menundukkan pandangan dan
hukum asal dari suatu perintah baik itu perintah Allah ‘Azza wa Jalla ataupun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib dan adanya tunututan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan dengan segera[6].
Maka jelaslah bahwa pacaran adalah suatu yang diharamkan dalam islam.
Kemudian jika ada yang mengatakan kalau seandainya pacaran tidak dibolehkan maka bagaimanakah dua orang insan bisa menikah padahal mereka belum saling kenal?
Maka kita katakan pada orang yang beralasan demikian dengan jawaban yang singkat namun tegas bukankah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk? Bukankah Beliau adalah orang yang paling kasih kepada ummatnya tidak memberikan petunjuk yang demikian? Firman Allah ‘Azza wa Jalla,
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, amt berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (At Taubah [9] : 128).
Kata حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ pada ayat di atas ditafsirkan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di –rahimahullah- berarti bahwa, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang mencintai kebaikan kepada kita ummatnya, mengerahkan seluruh kesungguhannya dalam rangka menyampaikan kebaikan kepada mereka, bersemangat untuk dapat memberikan hidayah (irsyad, pent.) berupa iman kepada merekatidak suka jika kejelekan menimpa mereka dan menegerahkan seluruh usahanya untuk menjauhkan mereka dari kejelekan[7]. Dengan demikian ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kasih pada ummatnya dan paling menginginkan kebaikan untuk mereka namun Beliau tidaklah mengajarkan kepada ummatnya yang demikian. Simak pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ
Sesungguhnya tidak ada Nabi sebelumku kecuali wajib baginya menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang dia ketahui untuk umatnya, dan mengingatkan semua kejelekan yang dia ketahui bagi umatnya…”.[8]
Maka hendak kemanakah lari orang yang berpendapat kalau seandainya pacaran tidak dibolehkan maka bagaimanakah dua orang insan bisa menikah padahal mereka belum saling kenal? Bukankah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan dan mempraktekkan bagaimana tatacara menuju pernikahan? Apakah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan kepada kita  cara mencari pasangan hidup dengan pacaran? Wahai pengikut hawa nafsu hendak kemanakah lagi engkau palingkan sesuatu yang telah jelas dan gamblang ini ??!!!
Kalau seandainya yang demikian dapat mengantarkan kepada kebaikan tentulah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya kepada kita.
Sebagai penutup kami nukilkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang posisi shaf laki-laki dan perempuan dalam sholat, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :
خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertamasejelek-jeleknya adalah yang paling akhir dan Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling akhirsejelek-jeleknya adalah adalah yang paling awal”.[9]
Maka renungkan wahai saudaraku
apakah lebih layak orang –bukan suami istri­­– yang tidak sedang dalam keadaan beribadah kepada Allah untuk berdekatan, berdua-duan dan bermesra-mesraan serta merasa aman dari perbuatan menuju zina padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia mengatakan yang demikian !!!??
Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan :
ما نَهَيتُكُمْ عَنْهُ ، فاجْتَنِبوهُ
“Semua perkara yang aku larang maka jauhilah[10]
Allahu Ta’ala a’lam bish showaab, mudah-mudahan yang sedikit ini dapat menjadi renungan bagi orang-orang yang masih melakukannya dan bagi kita yang tidak mudah-mudahan Allah jaga anak keturunan kita darinya.
Menjelang malam, 17 Jumadi Tsaniyah 1430/11 Juni 2009.
Abu Halim Budi bin Usman As Sigambali
Yang selalu mengharap ampunan Robbnya

[1] Jika tujuannya seperti ini saja terlarang bagaimana jika tidak dengan tujuan yang demikian semisal hanya ingin berbagi rasa duka dan bahagia ??!! Tentulah hukumnya lebih layak untuk dikatakan haram.
   


Semoga bermanfaat☺

 Source:Aditya Budiman

Sabtu, 17 Februari 2018

Teman

Assalamualaikum teman-teman hari ini saya akan membagikan video tentang teman .Semoga bermanfaat



 

Kamis, 01 Februari 2018

Berhijab Yuk!

Assalamuallaikum teman-teman hari ini saya akan membagikan video tentang berhijab dari Ust.Hanan Attaki.Semoga bermanfaat








Saya akan memberi sedikit motivasi untuk berhijab.
Hijab itu awal dari perbaikan, berhijablah sambil terus memperbaiki hati dan prilaku.
Berhijab memungkinkan engkau dipilih karena iman, bukan karena fisik.
Kecantikan haqiqi bukan dari wajah Melainkan cahaya yang keluar dari hatinya.
Hikmah hijab itu sebagai penjaga identitas keislaman kita, bukan hanya sebatas trend semata.
Jika Islam sudah mengangkat derajat perempuan, kenapa justru perempuan itu sendiri yag merendahkan dirinya.
Berhijab jangan hanya menunggu niat. Berhijab itu karena mau taat.
Kecantikan memikat mata, kepribadian memikat hati.
Allah bersamamu, yang mengulur hijab keseluruh tubuh, disaat yang lain masih mengulur waktu memakainya.
Memulai memperbaiki diri dengan berhijab dan secara perlahan akan mempengaruhi akhlak.
Ya Allah, Jadikan Hijabku sebagai payung dari derasnya cobaan dan pelindung dari api neraka mu.
Wahai WANITA, Rosulullah menangis ketika melihat azab mu di neraka.
Aku berhijab bukan karena pintar ilmu agama, tetapi aku berhijab karena belajar menaati perintah Allah Ta’ala.
Menutup aurat tak butuh banyak alasan. Sebab, Malaikat izrail pun tak butuh banyak alasan untuk mengambil nyawamu kapanpun dan dimanapun.
Berjiblab bukan hanya sekedar melindungimu, tapi juga melindungi orang-orang disekitarmu dari fitnah dan godaan, serta menghalangi orang yang akan menilaimu hanya dari penampilan fisikmu.
Memang sangat berat menggunakan hijab, karena sulit untuk mengulurkan kerudung, tapi setiap perbuatan baik akan dibalas dengan baik juga.
Dengan memakai hijab, secara tidak langsung kamu menyampaikan bahwa kamu adalah wanita yang terhormat dan tidak murahan dan gampangan.
Wanita yang menutupi tubuh, mampu mendatangkan pria yang mencintainya dengan hati. Sedangkan wanita yang memperlihatkan tubuh, mampu mendatangkan pria yang mencintainya dengan nafsu
Lelaki yang masih mempersoalkan tampang adalah lelaki yang jiwanya miskin, melihat wanita hanya pada manfaat bukan karena martabat.
Hijab membuatmu terhormat di dunia dan mulia di akhirat, hijab buat cantikmu tak lekang diseret waktu bagai emas karat
Tidak ada manusia yang sempurna. Tapi, bukan berarti juga manusia harus tetap menjadi apa adanya. Perbaikan itu perlu, dan salah satunya dengan menutupi aurat dari orang sekitar.
Perhatikan olehmu Muslimah, saat wanita minim kain dan nyata lekuknya lewati lelaki, maka mata mereka mengikuti kemana pertunjukan pergi
Menjadi wanita, ada dua pilihan, menjadi besar-besar fitnah atau menjadi sebaik-baik perhiasan.
Bila ada anggapan bahwa gaya berpakaian yang semakin terbuka semakin modern, alangkah tidak kau lihat bahwa binatang tak pernah berpakaian.
hijab bukan pernyataan “aku sudah baik”, atau “aku tanpa dosa”, tapi hijab adalah pernyataan sederhana dari “aku ingin taat”
Apa pendapat manusia tentang hijabmu, bukanlah suatu masalah jika engkau sudah ikhlas melabuhkannya dengan keyakinan hanya karena Allah.
Satu langkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, satu langkah pula ayahnya mendekat ke neraka.
Wahai saudari, Matahari tidak kehilangan keindahannya saat tertutup awan. Begitu juga dengan kecantikanmu yang tidak akan pudar saat engkau mengenakan Hijab.
Jadilah Muslimah yang memiliki dua kecantikan, cantik luar yang dilindungi hijab syar’i, cantik dalam yang dihiasi akhlak terpuji.
Hijab membantumu menghemat kata-kata untuk jelaskan siapa dirimu pada manusia.
bila Allah menanyakan, mengapa layak surga diberikan padamu | setidaknya bisa kau jawab, “telah kuhijab apa yang Engkau perintahkan
hijab membuatmu terhormat di dunia dan mulia di akhirat | hijab buat cantikmu tak lekang diseret waktu bagai emas karat
Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang sholehah – HR Muslim
Perhiasan terbaik untuk wanita adalah rasa malunya – Fatimah Az-Zahra
Lebih baik aku kehilangan sesuatu demi memenuhi perintah Tuhan daripada kehilangan Tuhan demi sesuatu – Mufti Menk
Dengan berhijab akan lebih menampakan diri kamu menjadi wanita yang cantik dan sholehah.
Ketika seorang wanita meniatkan diri untuk berhijab ketika telah menikah dengan niat meringankan dosa yang harus di tanggung oleh suaminya, namun tidak pernah kah terpikir begitu banyak dosa ketika kau tidak berhijab dan itu semua harus di tanggung oleh ayahmu tercinta.
Perubahan baik menyangkut banyak hal bagi wanita muslimah, dan berhijab merupakan langkah awal untuk perbaikan. Tidak harus selalu perbaikan total baru, kemudian baru berhijab.
Jilbab bukan hanya untuk wanita yang pandai agama saja, jilbab bukan hanya untuk wanita yang pintar mengaji dan berakhlak mulia saja, namun jilbab adalah untuk semua wanita yang mengaku dirinya muslimah.
Muslimah berhijab bukan berarti malaikat, namun ia berusaha taat kepada Allah Ta’ala, karena berhijab adalah kewajiban bukan pilihan.
Ketika kita mengambil keputusan dengan melibatkanNya, lalu melepaskan sesuatu yang kita senangi karena alasan-alasan syar’i. Jangan pernah takut, karena Allah akan menggantinya untukmu bahkan lebih. Percayalah.
Hijab tak sekedar pelindung bagi wanita, melainkan menggambarkan seberapa besar kekuatan dan keindahaan dirinya.
Allah tidak akan menerima (Ibadah) seseorang perempuan hingga menutup auratnya, dan Allah tidak akan menerima shalat seorang perempuan yang telah cukup umur hingga ia berjibab. (HR.Thabrani)
Jangan menghina dan patahkan semangat orang yang sedang berhijrah. Tapi, bimbinglah dia, dukunglah dia, karena dia sedang berjalan mendekat kepada Allah.
Sesuatu akan lebih bernilai tinggi, jika dijaga dengan sebaik-baiknya. Dan untuk Wanita Muslimah adalah dengan menutup aurat dari pandangan Orang banyak.
Wahai Allah pemilik hidup dan penguasa hatiku, kuatkan hijrahku karenamu, pilihan ini bukan pelemah, tapi bagian dari pilar perbaikan diriku karenamu.
Sebaik-baiknya wanita itu yang tau menutup auratnya, bukan yang mengumbar-umbar auratnya untuk dipamerkan.
Menjadi seseorang yang dihormati itu adalah lebih baik daripada menjadi seseorang yang paling diminati kaum adam.
Harga diri seseorang wanita adalah saat dia mampu menjaga kehormatannya.
Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita shalihah (HR Muslim)
Jika seseorang muslimah menghiasi dirinya dengan perilaku takwa, maka akan terpancar cahaya keshalihan dari dirinya.
Memang tidak semua perempuan berhijab itu baik akhlaknya, tetapi perempuan yang baik akhlaknya pasti berjilbab, karena dia takut akan api neraka.
Hijab membuatmu terhormat di dunia dan membuatmu mulia di akhirat, hijab biat cantikmu tak lekang diseret waktu bagai emas karat.
Wanita yang berhijab belum tentu wanita yang baik, dan wanita yang tak berhijab belum tentu wanita yang buruk. Namun jika wanita berhijab, maka akan menjauhkan wanita dari hal-hal yang buruk.
Berhijab tidak perlu menunggu kita menjadi lebih baik terlebih dahulu, tapi dengan berhijab insya allah kita akan menjadi lebih baik.
Allah berfirman ” wahai nabi, suruhlah istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan yang beriman, hendaknya mereka mengulurkan pakaiannya (jilbab) menutup keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenali (sebagai wanita baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu, dan ingatlah Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (Al-Ahzab:96)

Kamis, 25 Januari 2018

PENTINGNYA BERHIJAB

”Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin,”Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak di ganggu.”

{Q.S Al-Ahzab:59}


Featured Post

KUMPULAN KUTIPAN HADIST SHOKIH HR. BUKHARI & HR. MUSLIM

Assalamualaikum teman-teman sebelumnya saya akan menjelaskan apa itu Hadits? Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan keteta...